hoam. company- line,ig : alrasyid.sbyg
0

Andragogi dan Pedagogi

hi~


Pedagogi adalah suatu teori belajar yang cocok dan tepat untuk masa kanak-kanak. Pedagogi merupakan suatu pendekatan yang hanya menempatkan murid  sebagai obyek di dalam pembelajaran, mereka mesti menerima pelatihan yang sudah di rancang oleh guru, sekolah maupun kurikulum. Apa yang harus dipelajari, materi-materi yang akan diterima, yang akan disampaikan, metode panyampaiannya, itu semua tergantung kepada guru dan tergantung kepada sistem pembelajaran itu sendiri. pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru.

Andragogi adalah suatu teori belajar yang dikembangkan untuk kebutuhan khusus orang dewasa. Andragogi berlaku bagi segala bentuk pembelajaran orang dewasa dan telah digunakan secara luas dalam rancangan program pelatihan organisasi, khususnya untuk domain keterampilan lunak (soft skill). Seni mengajar orang dewasa berlaku disemua tempat, ketika peserta didik atau warga belajarnya menunjukkan tanda-tanda kedewasaan yang baik. Belajar bagi orang dewasa harus menjadi aktif, bukan proses pasif. Pendidikan orang dewasa menitikberatkan pada peningkatan kehidupan mereka, memberikan keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang mereka alami dalam hidup mereka dan dalam masyarakat.

Perbedaan Andragogi dan Pedagogi
Andragogi
Pedagogi
Pembelajar disebut ‘peserta didik’ atau ‘warga belajar’.
Pembelajar disebut ‘anak didik’ atau ‘siswa.
Gaya belajar independen.
Gaya belajar dependen.
Tujuan fleksibel.
Tujuan ditentukan sebelumnya
Diasumsikan bahwa peserta didik sudah memiliki pengalaman untuk berkontribusi.
Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan kurang informasi.
Menggunakan metode pelatihan aktif.
Menggunakan metode pelatihan pasif.
Pembelajar mempengaruhi waktu dan kecepatan belajar.
Guru mengontrol waktu dan kecepatan belajar.
Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting.
Peserta berkontribusi sedikit pengalaman.
Belajar terpusat pada masalah kehidupan nyata.
Belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis.
Peserta didik dianggap sebagai sumber daya utama untuk ide dan contoh.
Guru sebagai sumberdaya utama yang memberikan ide dan contoh.

Asumsi Andragogi dan Pedagogi
Asumsi Andragogi
Asumsi Pedagogi
Konsep diri
Peningkatan arah-diri atau ketergantungan
Ketergantungan pada guru
Pengalaman
Pelajar merupakan sumberdaya yang kaya untuk belajar
Berharga kecil
Kesiapan
Tugas perkembangan: Peran sosial
Tugas perkembangan: Tekanan sosial
Perspektif waktu
Kecepatan aplikasi
Aplikasi ditunda
Orientasi untuk belajar
Berpusat pada masalah
Berpusat pada substansi mata pelajaran
Iklim belajar
Mutualitas/pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi, dan informal
Berorientasi otoritas, resmi, dan kompetetif
Perencanaan
Reksa (mutual) diagnosis diri
Oleh guru
Perumusan tujuan
Reksa negosiasi
Oleh guru
Desain
Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah
Logika materi pelajaran
Kegiatan
Teknik pengalaman (penyelidikan)
Teknik pelayanan
Evaluasi
Reksa diagnosis-kebutuhan dan reksa program pengukuran
Oleh guru

Karakteristik pembelajar dewasa:

  • Pelajar dewasa biasanya memiliki maksud yang teridentifikasi.
  • Pelajar dewasa biasanya memiliki pengalaman sebelumnya, baik positif maupun negaatif, dengan pendidikan diselenggarakan.
  • Pelajar dewasa bisanya ingin segera mengambil manfaat dari hasil belajarnya.
  • Pelajar dewasa memiliki konsep diri secara satu-arah.
  • Pelajar dewasa membawa dirinya dengan reservoir pengalaman.
  • Pelajar dewasa membawa keraguan dan ketakutan yang luas bagi proses pendidikan.
  • Pelajar dewasa biasanya sangat kuat pada ketahanan perubahan.
  • Pelajar dewasa memiliki ‘tujuan yang dewasa’.
  • Masalah pelajar dewasa yang berbeda dari masalah anak-anak.
  • Pelajar dewasa biasanya memiliki sebuah keluarga mapa.
  • Waktu reaksi pembelajar orang dewasa sering lambat.
  • Minat pendidikan pembelajaran dewasa biasanya mencerminkan dimensi kemajuan.
  • Nilai-nilai dari pelajar dewasa sebagai orang dewasa lebih banyak dari pada nilai-nilai program.

0

Tes Standar dan Pengajaran.

hi~


Tes Standar, tes yang mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia atau level yang sama, dan dalam banyak kasus perbandingan ini dilakukan di tingkat nasional.

 Tujuan Tes Standar.

  • Memberikan informasi tentang kemajuan murid.
  • Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid.
  • Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus.
  • Memberikan Informasi untuk merencanakan dan meingjatkan pengajaran atau instruksi.
  • Membantu administrator mengevaluasi program.
  • Memberikan akuntabilitas.
Tes berbasis standar, tes yang menilai kemampuan / keahlian yang diharuskan dipunyai murid sebelum merak naik ke kelas berikutnya atau kelulusannya.

Tes beresiko tinggi,  menggunakan tes dengan cara sedemikian rupa yang mengandung konsekuensi penting bagi murid, memengaruhi keputusan seperti apakah murid itu akan naik kelas atau lulus.

Kriteria untuk Mengevaluasi  Tes Standar.
  • Norma, untuk memahami kinerja murid individual dalam suatu tes, kinerjanya perlu dibandingkan dengan kinerja kelompok norma atau kelompok dari individu yang sama yang sebelumnya telah diberi ujian oleh penguji.
  • Validitas, sejauh mana tes mengukur apa-apa yang hendak diukur dan apakah interfensi tentang nilai tes itu akurat atau tidak. Validita Isi yakni kemampuan tes untuk mencalup sampel isi yang hendak diukur. Validitas Kriteria yakni untuk memprediksi kinerja murid saat diukur dengan penilaian atau kriteria lain. Concurrent Validity yakni relasi antara nilai tes dengan kriteria lain yang ada saat ini. Predictive Validity yakni relasi antara nilai tes dengan kinerja masa depan murid. Construct Validity  yakni sejauh mana ada bukti bahwa sebuah tes mengukur konstruk tertentu.
  • Reabilitas, sejauh mana sebuah prosedur tes bisa menghasilkan nilai yang konsisten dan dapat direproduksi. Test-retest Reability yakin sejauh mana sebuah tes menghasilkan kinerja yang sama ketika seorang siswa diberi tes yang sama dalam dua kesempatan yang berbeda. Alternate-Forms Reability yakni reabilitas ditentukan dengan memberikan bentuk yang berbeda dari tes yang sama pada dua kesempatan yang berbeda untuk kelompok murid yang sama dan mengamati seberapa konsistenkah skornya. Split-Half Reability yakni reabilitas yang dinilai dengan membagi item tes menjadi dua bagian, seperti item bernomor genap dan ganjil. Nilai pada dua set item itu dibagiakn guna menentukan seberapa konsistenkah kinerja murid itu di kedua set itu. 
  • Keadilan, tes yang adil adalah tes yang tidak bias dan tidak diskriminatif.
Tes Kecakapn dan Prestasi, ada dua tipe tes standar yakni kecakapan dan prestasi.

  • Tes Kecakapan, tipe tes yang didesain guna memprediksi kemampuan murid untuk mempelajari suatu keahlian atau menguasai sesuatu dengan pendidikan dan training tingkat lanjut.
  • Tes Prestasi, tes yang dimaksudkan utuk mengukur apa yang telah dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai murid.

Jenis-jenis Tes Standar
  • Survey Batteries, sekelompok tes persoalan individual yang didesain untuk murid tertentu.
  • Tes untuk Subjek Spesifik, beberapa tes standar dimaksudkan untuk meniali keahlian dibidang tertentu.
  • Tes Diagnostik, teridiri dari evaluasi era pembelajaran spesifik secara relatif mendalam.
Ujian Negara Beresiko Tinggi, setelah publik dan pemerintah menuntut pertanggungjawaban terhadap efektivitas sekolah dalam mendidik anak-anak bangsa, tes atau ujian negara semakin kuat perannya.

Format ujian negara, dari sudut pandang konstruktivitis, ujian negara ini menggunakan format yang salah, teridiri dari soal pilihan berganda.

Keuntungan dan penggunaan tes beresiko tinggi
  • Meningkatkan kinerja murid.
  • Lebih banyak waktu untuk mengajarkan pelajaran yang diujikan
  •  Ekspektasi tinggi untuk semua murid.
  • Identifikasi sekolah, guru, dan administrator yang berkinerja payah.
  • Meningkatkan rasa percaya diri di sekolah setelah nilai ujian naik.
Kritik terhadap ujian negara

  • Mengumpulkan kurikulum dengan penekanan lebih besar pada hafalan ketimbang keahlian berfikir dan pemecahan masalah.
  • Mengajar demi ujian.
  • Dikriminasi terhadap murid dari status sosioekonomi rendah dan minoritas.

0

Mengelola Kelas

hi~


Mengelola Kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid.

Kelas Padat, Kompleks, dan Berpotensi Kacau, dalam menganalisis lingkungan kelas, Walter Doyle mendeskripsikan enam karakteristik yang merefleksikan kompleksitas dan potensi problemnya :
  • `Kelas adalah multidimensional. Kelas adalah setting untuk banyak aktivitas.
  • Aktivitas terjadi secara simultan.
  •  Hal-hal terjadi secara cepat. Kejadian sering kali terjadi dikelas dan membutuhkan respons cepat.
  • Kejadian sering kali tidak dapat terprediksi. Meskipun anda sudah membuat rencana dengan hati-hati dan rapi, kemungkinan besar akan terjadi kejadian diluar rencana.
  • Hanya ada sedikit privasi. Kelas ada lah tempat publik dimana murid melihat guru mengatasi berbagai masalah.
  • Kelas punya sejarah. Murid punya kenangan tentang apa yang terjadi dikelas pada waktu dahulu.
Mendesain Lingkungan Fisik Kelas, manajemen kelas yang efektif juga memikirkan tentang lingkungan fisik kelas.

Prinsip Penataan Kelas, berikut 4 prinsip dasar yang dapat dipakai dalam penataan kelas :
  •  Kurangi kepadatan ditempat lalu-lalang.
  •  Pastikan bahwa murid guru dapat dengan mudah melihat murid.
  • Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus dapat dengan mudah diakses.
  • Pastikan murid dapat melihat dengan jelas semua presentasi kelas.

Gaya Penataan, mempertimbangkan penataan fisik yang paling mendukung dalam aktivitas mengajar.
  •  Gaya Auditorium,susunan kelas dimana semua murid menghadap guru.
  • Gaya Tatap Muka, susunan kelas dimana murid saling menghadap.
  • Gaya Off-set, susunan kelas dimana sejumlah murid (tiga atau empat) duduk dibangku, tetapi tidak saling berhadapan langsung satu sama lain.
  • Gaya Seminar, susunan kelas dimana murid dalam jumlah besar duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
  • Gaya Klaster, susunan kelas dimana sejumlah murid bekerja dalam kelompok kecil.
Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Belajar, murid perlu lingkungan yang positif untuk pembelajaran.

Strategi Umum, mencakup penggunan gaya otoritatif dan manajemen aktivitas kelas yang efektif.

Menggunakan Gaya Otoritatif.
  • Gaya manajemen kelas otoritatif, berasal dari gaya parenting menurut Diana Baumrind.
  • Gaya manajemen kelas permisif, memebrikan banyak otonomi pada murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk perkembangan keahlian pembelajaranatau pengelolaan perilaku mereka.
Mengelola Aktivitas Kelas Secara Efektif.
  • Menunjukkan sebarapa jauh mereka ‘mengikuti’.
  •  Atasi situasi timpang-tindih secara efektif.
  • Menjaga kelancaran dan kontinuitas pembelajaran.
  • Libatkan murid dalam berbagai aktivitas  yang menantang.
Mengajak Murid Bekerja Sama, ada 3 strategi agar murid mau diajak bekerja sama :

  • Menjalin Hubungan Positif dengan Murid, penting untuk menuntut prestasi akademik yang bagus dan kelas yang tenang, akan tetapi jangan lupa pada kebutuhan sosioemosional murid.
  • Mengajak Murid untuk Berbagi dan Mengemban Tanggung Jawab, murid diizinkan untuk berpartisipasi dalam menyusun aturan kelas.
  • Beri Hadiah Terhadap Perilaku yang Tepat.
Menjadi Komunikator yang Baik, mengelola kelas dan memecahkan konflik secara konstruktif membutuhkan keterampilan berbicara. Ada beberapa strategi untuk menjadi komunikator yang baik.

Keterampilan Berbicara, berbicara didepan kelas dan murid.
  • Menggunakan tata bahasa yang benar.
  • Menggunakan kosa kata yang gamoang dipahami.
  • Menerapkan strategi untuk meningkatkan pemahaman terkait apa yang dikatakan guru.
  • Berbicara dengan tempo yang tepat.
  • Tidak menyampaikan hal-hal yang kabur.
  • Menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar untuk berbicara secara jelas dikelas.
Keterampilan Mendengar, mengelola kelas secara aktif akan lebih mudah apa bila guru memiliki kemamouan mendengar yang baik.

  • Beri perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara.
  • Parafrasa.
  • Sintesiskan pola dan tema.
  • Beri umpan balik atau tanggapan dari orang yang berkompeten.
Berkomunikasi secara Nonverbal, berikut beberapa perilaku umum yang dilakukan orang untuk berkomunikasi secara Nonverbal.

  • Mengangkat alis sebagai tanda tak percaya.
  • Bersedekap untuk melindungi diri.
  • Mengangkat bahu sebagai tanda tak peduli.
  • Mengedipkan mata sebagai tanda persetujuan atau meunjukkan kehangatan.
  • Mengetukkan jari tanda tak sabar.
  • Menepuk dahi sebagai tanda lupa sesuatu.


0

Testimoni

hi~

Assalamu'alaikum wr.wb.
Melalui postingan ini saya ingin menyampaikan testimoni saya selama belajar mata kuliah psikologi pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Pengalaman belajar sangat seru, bahkan kerap kali saya merasa bukannya sedang belajar tapi menghadiri sebuah workshop. Segala gambaran buruk tentang belajar dikelas sekietika menghilang ketika masuk dikelas ini, khususnya ketika belajar bersama Bu. Lita.

Akan tetapi satu-satunya yang saya kurang sukai adalah beragam tugas jangka panjang hang harus dikumpul pada waktu yang bersamaan, sehinggap kerap kali saya tertukar memahi tugas yang diberikan anatara satu sama lain.

Dan melalui postingan ini saya juga mohon maaf kepada dosen pengampu mata kuliah psikologi pendidikan, apabila ada perlakuan  maupun perkataan saya yang salah selama masuk dikelas ini

Terima kasih,
Assalamu'alaikum wr.wb.

0

Laporan Observasi Pendidikan di TK Sutomo 2 (Kelompok 3 - Kelas B)

Kelompok 3
Bab 1 Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu proses bagi seseorang untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Pendidikan sudah diterapkan dari masa nenek moyang manusia. Tidak ada kata terlambat dalam menempuh pendidikan. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Ada beberapa pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan bisa saja bermula dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.Pendidikan bisa diperoleh baik secarah formal dan nonformalPendidikan Formal diperoleh dalam kita mengikuti progam-program yang sudah dirancang secara terstruktur oleh suatu intitusi, departemen atau kementerian suatu negara. Pendidikan non formal adalah pengetahuan yang didapat manusia (Peserta didik) dalam kehidupan sehari-hari (berbagai pengalaman) baik yang dia rasakan sendiri atau yang dipelajarai dari orang lain (mengamati dan mengikuti).
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian Pendidikan , yang berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Bab 2 Landasan Teori
2.1 Mengelola Kelas Secara Efektif
           Manajemen kelas yang efektif memaksimalkan kesempatan belajar anak-anak. Para ahli dalam manajemen kelas mengungkapkan bahwa telah terjadi perubahan pemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas. Pandangan sebelumnya lebih menekankan pembuatan dan penerapan peraturan dalam mengendalikan perilaku siswa. Pandangan terbaru lebih memfokuskan diri pada kebutuhan siswa dalam memelihara hubungan dan kesempatan untuk meregulasi diri. Manajemen kelas yang mengorientasikan siswa ke arah kepasifan dan kepatuhan dengan peraturan yang ketat bisa merusak keterlibatan mereka dalam pembelajaran yang aktif, tingkat pemikiran yang lebih tinggi, dan konstruksi sosial pengetahuan. Tren baru dalam manajemen kelas menempatkan lebih banyak penekanan pada pembimbingan siswa ke arah disiplin diri dan lebih sedikit penekanan pada pengendalian siswa secara eksternal. Dalam tren saat ini yang berpusat pada siswa, guru lebih dianggap sebagai pembimbing, coordinator, dan fasilitator. Model manajemen kelas yang baru tidak berarti masuk kedalam model yang permisif. Penekanan terhadap perhatian dan regulasi diri siswa tidak berarti bahwa guru melepaskan tanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam kelas.
2.2 Masalah-Masalah pada Kelas yang Besar dan Berpotensi Menimbulkan Kekacauan
Ø  Ruang kelas itu multidimensional, ruang kelas adalah tempat untuk banyak aktivitas yang berkisar dari aktivitas akademis sampai aktivitas sosial. Guru harus terus mencatat dan memantau perkembangan siswa.
Ø  Aktivitas terjadi secara bersamaan, banyak aktivitas kelas terjadi secara bersamaan.
Ø  Hal-hal terjadi dengan cepat, peristiwa-peristiwa seringnya terjadi dengan cepat di ruang kelas dan sering kali membutuhkan respon saat itu juga.
Ø  Peristiwa sering kali tidak dapat diprediksi, meskipun sudah merencanakan aktivitas hari itu dan sangat teratur, peristiwa yang tak terduga tetap akan terjadi.
Ø  Hanya ada sedikit privasi, ruang kelas adalah tempat umum dimana siswa mengobservasi bagaimana guru menangani masalah kedisiplinan, peristiwa yang tidak terduga, dan keadaan yang membuat frustasi. Sebagian besar dari apa yang terjadi pada seorang siswa diobservasi oleh siswa lain dan siswa membuat atribusi tentang apa yang terjadi.
Ø  Ruang kelas memiliki sejarah, siswa mempunyai kenangan tentang kejadian sebelumnya di kelas mereka. Mereka mengingat bagaimana guru menangani maslaah kedisiplinan sebelumnya, dimana siswa mendapatkan lebih banyak hak istimewa daripada siswa lain, dan apakah guru bertindak sesuai janjinya. Beberapa minggu pertama tahun ajaran sekolah adalah penting untuk menetapkan prinsip-prinsip manjemen kelas. 
Sifat kelas yang besar dan kompleks bisa menimbulkan masalah apabila kelas tidak dikelola secara efektif. Masalah seperti ini merupakan persoalan umum yang utama tentang sekolah. Kurangnya kedisiplinan dianggap sebagai masalah yang paling penting kedua, setelah kurangnya dukungan financial (Gallup Poll, 2004).

2.3 Strategi dan Tujuan Manajemen
            Manajemen kelas yang efektif bertujuan untuk:
Ø  Membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan lebih sedikit untuk perilaku yang tidak mengarah pada tujuan. Manajemen kelas yang baik akan membantu memaksimalkan waktu pembelajaran guru dan waktu belajar siswa.
Ø  Mencegah siswa mengembangkan masalah. Sebuah kelas yang dikelola dengan baik tidak hanya membantu perkembangan pembelajaran, tetapi juga membantu mencegah berkembangnya masalah akademis dan emosional. Kelas yang dikelola dengan baik membuat siswa-siswa tetap sibuk dengan tugas yang aktif dan menantang, melakukan aktivitas yang membuat siswa menjadi terpikat dan termotivasi untuk belajar, serta menetapkan peraturan yang jelas yang harus diterima oleh siswa.
2.4 Gaya Penyusunan Ruang Kelas
Ø  Gaya Auditorium (auditorium style), semua siswa duduk menghadap guru. Susunan ini mencegah kontak siswa secara berhadap hadapan dan guru bebas untuk bergerak kemana pun didalam ruangan.
Ø  Gaya berhadap-hadapan (face-to-face style), siswa duduk menghadap satu sama lain. Gangguan dari siswa lain akan lebih tinggi daripada dalam gaya auditorium.
Ø  Gaya off-set (off-set style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya tiga atau empat) duduk di meja, tetapi tidak duduk berseberangan secara langsung dari satu sama lain. Gaya ini menghasilkan lebih sedikit gangguan daripada gaya berhadap-hadapan dan bisa efektif untuk aktivitas belajar yang kooperatif.
Ø  Gaya seminar (seminar style), siswa dalam jumlah besar (sepuluh atau lebih) duduk dalam susunan sirkuler, empat persegi, atau bentuk U.
Ø  Gaya kelompok (cluster style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya empat sampai delapan) bekerja dalam kelompok kecil yang berdekatan.
              2.5 Menjadi seorang komunikator yang baik
                  2.5.1 Komunikasi Verbal    
Ketika berbicara di dalam kelas dan dengan siswa,, salah satu hal terpenting yang harus diingat adalah untuk dengan jelas mengomunikasiskan informasi. Kejelasan berbicara sangatlah penting dalam pengajaran yang baik. Para ahli komunikasi merekomendasikan untuk mengganti pesan “Anda” dengan pesan “Saya” karena membantu untuk mengalihkan percakapan kea rah yang lebih konstruktif dengan mengungkapkan perasaan tanpa menilai orang lain. Kemudian aspek lain dalam komunikasi verbal melibatkan bagaimana orang-orang menghadapi konflik.
2.5.2 Komunikasi Nonverbal
Selain dengan berbicara, guru juga dapat berkomuniasi melalui bagaimana dia melipat tangan, melemparkan pandangan, menggerakkan mulut, menyilangkan kaki, atau menyentuh orang lain.

2.6 Menangani Perilaku Bermasalah
           Intervensi bisa dikarakteristisasikan sebagai minor atau moderat. Intervensi minor melibatkan penggunaan petunjuk nonverbal, membiarkan aktivitas tetap berjalan, mendekati siswa, mengalihkan perilaku, memberikan pembelajaran yang dibutuhkan, secara langsung dan tegas memberitahu siswa tersebut untuk menghentikan perilaku tersebut, serta memberi siswa sebuah pilihan. Intervensi moderat melibatkan tidak memberikan hak istimewa atau aktivitas yang diinginkan, mengasingkan atau memindahkan siswa, serta memberikan hukuman.
      Kekerasan adalah persoalan utama yang semakin meningkat di sekolah. Bersiaplah untuk tindakan agresif dari pihak siswa sehingga guru bisa dengan tenang menghadapinya. Berusahalah untuk emnghindari argument atau konfrontasi emosional.

Bab 3 Landasan Teori

3.1.   Rundown Kegiatan Observasi  (Jum’at, 31 Maret 2107)
·         07.45 s/d 08.00: Berdiskusi dengan dewan pengajar sebelum melakukan observasi.
·         08.00 s/d 08.15: Dewan pengajar membimbing siswa bernyanyi dan berbicara menggunakan bahasa mandarin.
·         08.15 s/d 08.30: Dewan pengajar memeberikan latihan pada siswa
·         08.30 s/d 09.15: Dewan pengajar membimbing siswa bernyanyi dan berbicara menggunakan bahasa indonesia.
·         09.15 s/d 09.30: Istirahat.
·         09.30 s/d 10.00: Tim observasi memberikan games kepada siswa.
·         10.30 s/d 11.00: Tim observasi memberikan beberapa pertanyaan pada siswa.
·         11.00                 : Selesai

3.2.   Sistematika Observasi
·         Kelompok tiba di TK Sutomo 2 pada pukul 07.40dan langsung menuju ruang kepala sekolah untuk melakukan diskusi dan meminta izin pemakaian kelas dengan tujuan untuk dapat melakukan sebuah observasi sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di sekolah.
·          Pukul 08.00 anak-anak sudah duduk rapi didalam kelas dan siap untuk belajar. Kelas dipimpin oleh dua dewan pengajar, salah seorang dewan pengajar membuka kelas dengan bernyanyi menggunakan bahasa mandari yang sepertinya sudah sangat dihafal oleh para siswa, karena mereka dapat mengikuti nyanyian dewan pengajar tersebut dengan baik.   
Dewan pengajar tersebut kemudian mengeluarkan buku panduan yang dimiliki semua siswa, lalu membimbing para siswa untuk mengeja menggunakan bahasa mandarin dengan alat bantu gambar yang sudah tersedia di buku panduan tersebut. Setelah itu dewan pengajar menjelaskan maksud gembar tersebut dengan metode cerita, adapun topik yang dibahas di bukunpanduan tersebut mengenai petir.
Setelah itu dewan pengajar kembali mengajak siswa untuk bernyanyi, tetap menggunakan bahasa mandarin, yang juga sudah dihafal dengan baik oleh para siswa.
·         Pukul 08.15 para siswa diberi latihan menulis dengan tulisan sambung seperti yang dicontohkan oleh dewan pengajar dipapan tulis. Setelah itu dewan pengajar juga memberika latihan menghitung kepada para siswa.

·          Pukul 08.30  anak-anak sudah siap melakukan latihan yang diberikan oleh dewan pengajar. Kelas kemudian dipimpin oleh dewan pengajar untuk bernyanyi, namun kali ini menggunakan bahasa indonesia akan tetapi beberapa siswa masih kesusahan untu mengikuti dikarenakan beberapa dari mereka menggunakan bahasa mandarin sebagai bahasa dasar dilingkungan keluarga mereka, akan tetapi tidak ada kendala yang sangat berarti karena beberapa murid yang mampu mengikuti dengan baik tetap bersemangat bernyanyi sehingga menutupi kekuranagn dari teman-temannya yang tidak lancar.
Kelas ini sangant cocok dijadikan sebagai contoh kelas multikultural, dikarenakan aanya perbedaan suku dan ras baik diantara dewan pengajar dan siswa, akan tetapi kelas tetap berjalan dengan baik tanpa membedan ras yang satu dengan ras yang lain, bahkan siswa mampu dalam beradaptasi dengan kehadiran tim observasi sekalipun berasal dari ras ataupun suku yang berbeda dengan siswa tersebut. Akan tetapi para siswa tetap mau bermain bersama personel dari tim observasi.
Setelah bernyanyi dewan pengajar bantuan buku panduan mengajak siswa untuk mengeja menggunakan bahasa indonesia, dengan tema yang sama yaitu petir, dan dengan metode yang sama juga. Hal ini juga membantu tim observasi yang tidak bisa berbahasa mandarin memahami apa yang diajarkan dewan pengajar pada sesi pertama kepada siswanya. Dan hali ini sekaligus membantu melatih para siswa yang masih belum terbiasa menggunakan bahasa indonesia.  Kemudian kelas kembali dilanjutkan dengan bernyanyi yang dipandu oleh dewa pengajar, tetap menggunakan bahasa indonesia.
·         Pukul 09.15 siswa beristirahat dan memakan bekal-bekal yang telah dibawa mereka dari rumah. Beberapa siswa ada yang disediakan oleh sekolah.
video

·         Pukul 09.30 siswa yang sudah selesai makan sudah bersiap untuk melanjutkan pelajaran. Kali ini tim observasi dipersilahkan oleh dewan pengajar untuk memimpin kelas, dan kesempatan ini tim observasi gunakan untuk memeberikan games. Dimana sebelum games dimulai tim observasi memnjanjikan hadiah bagi pemenang games.
Tujuan diadakan games adalah, (1) untuk melihat jiwa kompetitif para siswa terkait dengan hadiah yang diperebutkan, yang mana tim observasi mengiming-imingi siswa dengan coklat. (2) untuk melihat jiwa kejujuran yang ada pada siswa, yang mana tim observasi mempersilahkan siswa yang gagal untuk tidak mengikuti babak selanjutnya, tanpa diperintahkan oleh tim observasi.
Games dimulai dengan salah seorang tim dari tim observasi meminta siswa untuk berdiri dan kemudian menjelaskan games yang akan dimainkan, yakni games ‘Topi Saya Bundar”. Games dilakukan dengan menyanyikan lagu topi saya bundar dengan gerakan yang sudah diperagakan oleh tim observasi, akan tetapi pada saat bernyanyi tim observasi yang memimpin games akan memeperagakan gerakan yang salah. Apa bila ada siswa yang melakukan gerakan yang salah maka tim observasi akan mempersilahkan yang salah untuk duduk. Kemudian games dilanjtkan dengan siswa yang masih bertahan.
Beberapa siswa yang gagal tidak mau untuk duduk dikarenakan dua hal (1) siswa tidak mengerti dengan games yang dimainkan, yang diketahui dari raut wajah siswa yang kebingungan selama mengikuti games. (2) siswa menginginkan hadiah tersebut, yang diketahui dari aktifnya siswa mengikuti games akan tetapi ketika ia salah ia tak mau untuk duduk. Games diakhiri dengan pemberian hadiah kepada beberpa siswa yang mampu bertahan.

·         Pukul 10.30 tim obervasi melanjutkan kesempatan yang diberikan oleh dewan pengajar dengan memberikan quiz berupa teka-tekiguna melatih critical thinking mereka. Quiz yang diberikan berkaitan dengan buah-buahan dan hewan, dimana tim observasi yang memberikan quiz menjelaskan ciri-ciri dari buah atau hewan tersebut. Kemudian meminta siswa yang mengetahui jawabannya untuk mengangkat tangan sebelum menjawab. Siswa yang menjawab dengan benar kali ini diberi hadiah permen.

Siswa yang dalam kesempatan sebelumnya gagal mendapatkan coklat sangat antusias untuk menjawab teka-teki yang diberikan oleh tim observasi, bahkan mereka yang berhasil pada sesi games tak mau ketinggalan untuk menjawab pertanyaan. Sesi quiz pun diakhiri begitu permen yang disediakan habis, dan setiap siswa mendapat kesempatan untu menjawab.

·         Pukul 11.00 kegiatan observasi pun diakhiri dengan sesi foto bersama dengan siswa dan guru. Dilanjutakan dengan perginya ke ruang kepala sekolah untuk dapat mengucapakan kata terima kasih kepada kepala sekolah yang bersangkutan atas kerja samanya sehingga proses observasi dapat belajalan dengan lancar.

Testimoni ketika observasi:

Anthony: Gurunya ramah sampai mengantar kami ke kelas yang diajari olehnya. Anak muridnya KAWAII semua. Waktu ku membantu Fadhil dalam memberikan arahan kepada murid terhadap gamesnya, kami mengalami kesulitan karena mereka kurang fasi
Flo:Gurunya membantu kami berkomunikasi dengan anak anak dengan bahasa mandarin. Kami butuh belajar bahasa mandarin ahahaha.
Syifa:Keaktifan anak-anak yang bersemangat ingin mendapat coklat dan permen. Padahal sebelumnya ngak bersemangat mereka. Tapi mereka tetep juga lucu.
Fadhil:Biarpun mereka awalnya bingung mengikuti saya ketika bernyanyi dan mengikuti gerakan, tetapi mereka cukup aktif. Pertama-tama waktu diarahkan mereka semua bengong.
Fajri Zahara: anak anak sangat menyenangkan dan ramah pada kami, walaupun awalnya malu malu.
Farah: anak anaknya mau diajak bekerja sama, terumata urusan foto. Mereka sangat ramah pada kami. Waktu diteriaki “Ayok foto adik-adik” wuih… langsung semua ngumpul berderet hahaha.
Larasati: Wes keren lah anak-anak sutomo ini, walau kurang bisa bahasa Indonesia cuman pemantapan bahasa inggris, mandarin, dan cina mereka keren. Salut dah ama mereka.




Arsip

hoam. company. Diberdayakan oleh Blogger.